Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Kriteria Karakteristik e-Store Sukses

 

    Ditengah kelesuan e-commerce dunia belakangan membuat beberapa yang baru dan sudah jadi pesimis. Belum lagi soal belum ada rasa mantapnya melakukan transaksi jual beli via Internet dan krisis dunia yang lagi tidak memihak kemajuan dunia umumnya, Indonesia dan Asia khususnya.

   Lagi, yang memprihatinkan, betapa beberapa pemain e-commerce dunia kian hari mulai mengalami kerontokan satu per satu. Bahkan, Yahoo portal besar beberapa waktu yang lalu mulai mengadakan perampingan dan efisiensi dengan mempreteli karyawan - karyawannya.

   Bahkan, mungkin lagi patah arang, Yahoo yang raksasa itu, mulai spekulasi dengan membuka site - site pornonya, yang banyak diakui model site - site jenis ini yang ternyata kebal bahkan kenceng memperoleh untung pada sesi e-commerce, dimana internet sebagai basis bisnisnya. Kontan, kecaman sana sini harus diterima Yahoo, beban resiko yang biasa dialami oleh sebuah perusahaan yang kian besar.

   Kalau sekelas Yahoo saja sudah mulai goyang, bagaimana dengan yang baru dan yang sama - sama berkiprah tapi belum juga memetik buah segar hasil jerih payahnya seperti yang dilakukan di Asia khususnya di Indonesia yang sedang berhembus badai krisis yang tak tahu kapan berakhirnya.

   Menurut Boston Consulting Group (BCG), perusahaan - perusahaan Asia yang belum merambah e-commerce terancam kehilangan potensi bersaing secara global. Alasannya, perusahaan - perusahaan di wilayah Asia (dari 500 perusahaan sample) ternyata ketinggalan dari perusahaan - perusahaan di wilayah Barat, dalam mengadaptasi strategi e-commerce.

   Jangan patah arang, bukan berusaha menghibur, namun sebuah laporan yang dikeluarkan International Data Corp (IDC) berjudul "eWorlds Survey" baru - baru ini mementahkan asumsi banyak perusahaan pada internet market. Analisis IDC, John Gantz, melalui survey dari 27 negara dengan responden yang bekerja sebagai manajer TI, business executive dan konsumen itu, mengatakan goyangnya bursa teknologi Nasdaq bukanlah akhir dari e-business.

   Dalam analisa IDC itu disebutkan, pada tahun ini perusahaan di seluruh dunia mengucurkan dananya dengan jumlah yang lebih banyak pada infrastruktur internet. Jumlah investasi saat ini jauh diatas jumlah investasi untuk menghadapi Y2K yang dikucurkan sejak lima tahun lalu.

   Menurut IDC, penurunan pasar saham internet yang menarik banyak sektor teknologi hanyalah bagian siklus dari kecenderungan pasar. Nyatanya, menurut IDC, banyak perusahaan konvensional di seluruh dunia yang tetap menginvestasikan dana untuk e-business. IDC memperkirakan dalam empat tahun mendatang jumlah situs internet akan naik dua kali lipat dengan peningkatan e-commerce sepuluh kali lipat. Pada tahun 2004, dana yang dikeluarkan untuk aplikasi internet diperkirakan naik sebanyak empat kali dibandingkan empat tahun sebelumnya.

   Dalam IDC itu terungkap banyaknya perusahaan yang menaruh harapan tinggi dari e-business namun belum dilengkapi fasilitas yang dibutuhkan. Pada tahun 2001, diperkirakan akan banyak perusahaan mengalami revenue sebanyak dua kali dari proses online. Namun demikian, kurang dari 20 persen perusahaan masih akan terikat pada sistem pemesanan tradisional.

Butuh Strategi Baru

    Perusahaan - perusahaan Barat yang sudah mengintegrasikan e-commerce business to business (B2B) ke dalam strategi perusahaan, ternyata jadi lebih efisien. Sebagai hasilnya, mereka mampu memangkas biaya produksi yang harus dikeluarkan.

   Sementara itu, di Asia banyak perusahaan - perusahaan yang menunda strategi e-commerce mereka. Tapi juga tidak sedikit perusahaan Asia yang sudah menanamkan investasi di bidang e-commerce, sayangnya belum memperoleh dukungan memadai, baik internal maupun eksternal, di wilayah ini.

   Dinyatakan dalam laporan ini, bahwa perusahan - perusahaan Asia yang berkompetisi di pasar global menghadapi resiko yang lebih besar. Biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan - perusahaan Asia Pasifik kini lebih keccil 7 persen dari biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan - perusahaan Asia Pasifik kini lebih kecil 7 persen dari biaya yang dikeluarkan perusahaan di Amerika Serikat. Menurut BCG, keuntungan ini akan menyusut hingga tinggal 0,3 persen saja, jika perusahaan Asia tidak segera melakukan strategi e-commerce.

   Menurut Hemerling, wakil direktur BCG, strategi e-commerce 'made in USA' ini tidak dapat dipraktekkan di wilayah Asia Pasifik. "Iklim kompetitif yang berlaku di Asia, berbeda dengan yang ada di Amerika Serikat", tambahnya. "Berdasarkan pengalaman, perusahaan - perusahaan di Asia Pasifik terbagi ke dalam du kelompok", kata Hemerling.

   "Satu kelompok berisi perusahaan - perusahaan yang menunda rencana e-commerce mereka, karena tidak bisa lagi melihat keuntungan dari strategi tersebut. Kelompok lainnya dipenuhi oleh perusahaan - perusahaan yang sudah melakukan investasi besar - besaran dalam e-commerce, dan kini sedang berjuang untuk tetap bertahan hidup", tambah Hemerling.

   Menurut BCG perusahaan Asia yang paling terancam adalah perusahaan yang bermain dalam pasar global karena cakupan global itu sendiri dari e-commerce.

Kriteria Sukses e-Store

   Menurut Gartner Group, retailer di internet yang tidak memperbaiki proses transaksi yang diberlakukan di situsnya, diramalkan akan sulit bertahan. Para e-tailer kehilangan lebih dari 60 persen calon konsumen potensial mereka, sebelum para calon konsumen ini mencapai tahap proses transaksi kartu kredit.

   Menurut Geri Stieler, Direktur Gartner Research, dari 30 situs retail yang ditelitinya, tidak ada satupun yang memenuhi kriteria sebagai toko internet yang sukses. Meski Stieler mengakui beberapa toko telah memenuhi kriteria yang dimaksud. Sayangnya, beberapa kriteria yang lain belum dan tidak dijalankan secara seimbang.

   Beberapa poin Stieler mengenai karakteristik sukses yang mesti dimiliki dan dijalankan secara terpadu oleh sebuah toko online itu diantaranya :

1. Mudah ditemukan dengan menggunakan search engine

2. Meminimalisir tampilan iklan

3. Mempermudah calon konsumen membrowse situsnya

4. Menghindari link ke situs - situs lain

5. Mengintegrasikan bentuk - bentuk pemasaran

6. Mengulang - ulang keuntungan yang ditawarkan kepada konsumen

7. Mempertahankan sistem inventori yang uptodate

8. Mempermudah konsumen menemukan sistem help

9. Menyediakan fasilitas search untuk melakukan pencarian di dalam situs

10. Menawarkan beberapa pilihan model komunikasi

11. Globalisasi channel

12. Menayangkan privacy statement di situs agar konsumen mengetahui kebijakan perlindungan data di situs yang bersangkutan

...:::bLaCkApRiL224:::...

bLaCkApRiL`

Rest in peace Dwi Angga Pratama

28/04/99

sem@ngat.net