Membentuk Jaringan EPOS-Kartu Kredit Di Daerah
Pembangunan jaringan EPOS yang sangat sederhana ini dapat memacu perbankan kecil di daerah untuk membentuk sistem layanan kartu kredit sendiri. Layanan nasabah dapat diberikan pada kelompok pekerja tertentu yang sudah solid di daerah. Dengan konsentrasi kegiatan pada daerah tingkat II misalnya, perbankan dapat lebih mudah menarik minat nasabah baru atau pihak pemilik toko untuk mendapatkan layanan kartu kredit. Pelimpahan otonomi kepada daerah tingkat II Kabupaten/Kotamadya yang saat ini sedang ramai dibicarakan akan memacu perkembangan ekonomi daerah. Pertumbuhan ekonomi daerah akan meningkatkan potensi ekonomi yang dapat digarap oleh dunia perbankan. Di sisi lain, pembentukan loakl - lokal layanan EPOS di daerah tingkat II akan membantu perkembangan ekonomi di setiap daerah tingkat II.
Bank milik pemerintah daerah seperti BPD (Bank Pembangunan Daerah) misalnya, dapat melakukan kerja sama dengan pemerintah daerah untuk membentuk jaringan EPOS. Dengan wilayah operasional yang kecil, penggunaan sistem jaringan ini justru akan membantu solidnya sistem.
Beberapa bank kini telah melakukan terobosan layanan kartu kredit langsung ke daerah tingkat II. Bank BNI misalnya, mulai memberikan layanan kartu kredit langsung ke pejabat - pejabat penting di daerah. Dengan menduduki posisi penting di daerah, berbagai persyaratan batas minimum gaji atau pendapatan misalnya dapat diabaikan. Meski demikian, program ini akan berjalan lebih baik jika jaringan EPOS bisa lebih banyak dibangun di sentra - sentra ekonomi daerah tingkat II dengan memperbanyak outlet-outlet EPOS.
Visa dan MasterCard termasuk dua buah kartu kredit yang memiliki jaringan layanan kartu kredit yang plaing disegani di dunia. Menurut Dennis M. Goggin, President and CEO VISA INTERNATIONAL ASIA PASIFIC, dalam changing the way we pay, pasar kartu kredit Indonesia yang berhasil dikuasai oleh Visa dan MasterCard sebesar 31 persen dari total pasar kartu kredit. Data dari Visa menyatakan bahwa sepanjang tahun 1996 sampai tahun 1997 terdapat 1,6 juga pengguna kartu kredit yang berkembang menjadi 2,5 juga pengguna di Indonesia. Sepanjang tahun penuh krisis itu, kenaikan pengguna kartu kredit mencapai 80%.
Berikutnya, pada tahun 1998 pengguna naik sebesar 20%. Dari jumlah itu sebesar 1,3 juta orang merupakan nasabah Visa dan 1,1 juta orang masuk menjadi nasabah MasterCard Indonesia. masing - masing memiliki nilai penjualan sebesar US$ 0,4 juta dan US$ 0,2 juta. Hebatnya lagi, Visa mentargetkan dalam waktu 5 tahun sejak soft launching-nya di Indonesia akan meraih target 12,5 juta orang nasabah. Untuk meningkatkan layanan jaringan EPOS ini sebuah prosedur sederhana dapat dilakukan oleh perbankan kecil di daerah. Jika tidak, ceruk pasar yang menggiurkan ini akan kembali dikuasai oleh para pemain asing seperti Visa dan MasterCard yang semakin membumi.
(bLaCkApRiL)