Yugoslavia, dibombardir NATO,
Diserang Hacker
Hacker ikut berpartisipasi dalam politik bukanlah hal baru. Misal hacker Portugal telah berkali - kali menjebol situs lembaga negara semacam Departemen Luar Negeri. Sahkah para hacker ini ikutan berjuang, membela bangsa dan negara ?
Hacker Amerika Serikat sering membobol situs institusi resmi di Amerika Serikat untuk tujuan politik, bahkan hacker Cina sering menyerang situs Indonesia setelah tragedi Mei 1998. Kali ini hacker yang berasal dari California mengirimkan bom email, yaitu email yang dikirimkan ke suatu alamat email dan setelah sampai ke tujuan mampu menggandakan dirinya ribuan bahkan jutaan kali sehingga membikin sistem macet karena menanggung beban ynag sangat berat, ke situs utama pemerintah Yugoslavia yang beralamat di http://www.gov.yu.
Richard Clark, hacker tersebut melakukan serangan bom email karena mendengar bahwa hacker Yugoslavia sebelumnya telah menyerang situs - situs yang berkaitan dengan NATO, sehingga dia tergerak untuk menggunakan kemampuannya untuk membela NATO. Di era informasi ini, memang tidak hanya perang fisik saja yang bisa terjadi, perang informasi sebenarnya tidak kalah gencarnya.
Clark mengatakan bahwa dirinya yakin yang menyerang situs Yugoslavia tidak hanya dirinya saja, namun mungkin banyak ratusan hacker lain yang ikut berpartisipasi dalam serangan NATO, dan juga sebaliknya. Dirinya hanyalah satu dari hacker lain yang berani mengaku telah membantu NATO untuk menyerang situs Yugoslavia.
Bom email yang dilancarkan oleh Richard Clark setidaknya mengakibatkan kesulitan besar pada sistem server Yugoslavia. Setidaknya dengan kekacauan sistem server pemerintah Yugoslavia, mereka tidak bisa melancarkan propaganda ke dunia Internasional melalui jalur Internet bahkan informasi penting anggaran militer Yugoslavia ikut terganggu. Clark mengatakan bahwa jika anda mendapatkan suatu akses setelah membobol keamanan server, maka anda tentunya bisa juga mematikan koputer tersebut.
Perang Antar Hacker
Clark yang pernah bekerja di Departemen Pertahanan Amerika Serikat dan kini membuka usaha sendiri yang bergerak di bidang instalasi jaringan komputer menerangkan bahwa teknik yang dipakainya hanyalah teknik mudah bagi para hacker.
Melakukan bom email sebenarnya memang tidaklah terlalu rumit bagi para hacker, melancarkan serangan tersebut sebenarnya belumlah menembus keamanan suatu server yang bertujuan untuk mendapatkan akses penuh terhadap suatu server. Bom email hanyalah serangan yang dilancarkan dari luar dan kita tidak tahu sistem keamanan yang ada di dalam, namun jika kita bisa membobol suatu sistem keamanan suatu server, kita bisa melancarkan serangan dari dalam dan bahkan bisa melakukan apa saja yang mungkin bagi komputer yang telah bobol.
Hacker sejati bisa melakukan jauh lebih dari yang ia lakukan lanjut Clark. Di sisi lain group hacker Amerika Serikat yang menamakan dirinya dengan Team Sp10it (baca: Team Sploit) mengabarkan mampu membobol beberapa situs yang berkaitan dengan Yugoslavia dan mengirimkan pesan dengan cara mengganti isi situs dengan kalimat "Bilanglah pada pemerintahmu untuk menghentikan perang". Selain itu masih ada koalisi group hacker Eropa dan Albania yang menamakan groupnya dengan nama The Kosovo Hackers Group, berhasi membobol sedikitnya 5 situs dengan menyampaikan pesan "Free Kosovo" ke dalam banner yang berwarna hitam dan merah.
Di lain pihak, hacker Serbia dan Russia juga tidak kalah semangat untuk menyerang situs - situs NATO dan Amerika Serikat, namun tidak ada laporan yang jelas tentang hal ini, hanya saja kegiatan mereka bisa tercium oleh para ahli keamanan jaringan.
Sesama Hacker Dilarang Saling Crack
Namun tidak semua orang ternyata setuju terhadap cara hacker untuk membantu negaranya. Setidaknya John Vranesevich, pendiri dari AntiOnline, suatu sistus yang khusus mengamati budaya para hacker, mengemukakan pendapat bahwa ikut campurnya kaum sipil dalam konflik militer atau konflik negara menggunakan cara seperti hacker merupakan preseden yang buruk. Bagaimanapun dia menganggap kegiatan hacker adalah sesuatu yang ilegal meskipun bertujuan untuk membantu negara, sehingga akan mengakibatkan dampak kurang baik.
Pendapat lain dari Peter Tippett presiden dan CEO Interntional Computer Security Association, berpendapat bahwa bagaimanapun kegiatan hacking adalah ide buruk untuk tujuan apapun.
Perang Menghalalkan Segalanya
Namun Clark tetap membantahnya "Ini adalah perang dan semua warga harus berpartisipasi, saya kira dalam keadaan perang semua menjadi sah - sah saja", ujarnya. Namun demikian ternyata ISP yang dipakai oleh Clark, Pacific Bell telah memblokir akses Internet Clark. Pacific Bell menganggap kegiatan seperti yang dilakukan Clark sangat berbahaya dan dianggap sebagai kegiatan spam dan Pacific Bell tidak mau mentoleransi kegiatan spam, apapun yang terjadi terhadap perkembangan dunia bahkan dalam situasi perang. Meski demikian, Clark tetap melancarkan protes ke ISP-nya bahkan menganggap tindakan Pacific Bell adalah suatu lelucon.
(bLaCkApRiL 111)